PICTURES SLIDE SHOW

Jumat, Agustus 01, 2008

aq menghargai hidup......!

Aq mencintai hidup. Aq hanya akan bekerja untuk hasil yang terbaik. Aq harus belajar untuk hanya memikirkan yang terbaik demi masa depanku. Cinta seharusnya membuatku pintar. Membuatku tahu… tahu bahwa aq terlalu berani untuk merasa takut, terlalu bermartabat untuk dipermainkan, terlalu kuat untuk merasa cemas, dan terlalu bahagia untuk memiliki rasa bersalah.
Tapi, ternyata bukan cinta seperti itu yang kurasakan. Aq merasa sepi. Merasa kadang semua sudah tidak bermakna. Dan aq tidak bisa berhenti. Aq mencintainya sepenuh hati. Tidak peduli lagi itu tepat atau tidak. Tidak peduli lagi dia menyadari aq hilang atau tampak. Aq tidak mengerti!!! Aq bahagia dengannya, tapi itu hanya imajinasiku. Aq sudah tak tahan jadi hantu. Aq tak sanggup!!! Rasa bersalah ini menyerangku, membuat ragaku seakan tak bernyawa. Ketika lukanya merembes disetiap kelopak dan aq sadar... aq hanya hantu.
Seberapa pentingnya dia dalam hidupku? Karna semua jadi tidak berarti, hanya karna dia disisiku. Kemana perginya keberanian yang dulu selalu kumiliki. Kenapa logika dan perasaan mejadi tak sejalan?
Aq tidak ingin hidup abadi. Aq juga tidak ingin melewati banyak masa, cukup hanya satu menit... dengan dia disisiku. Tanpa rasa penyesalan dan bersalah. Banyak anak2 meninggal dalam perang. Tidak sedikit laki-laki yang merelakan nyawanya untuk hidup merdeka. Dan wanita meninggal dengan perut kelaparan. Tapi hari ini aq tidak ingin mati, sebelum kesedihan hilang dari wajahnya...
Aq ingin sekali tuli dan membiarkan semua suara itu menguap terbawa angin. Seperti sekawanan samurai yang datang dan menyerang. Cukup... Tuhan... Cukup! Harga diriku tercacah karna aq hanya diam. Kesetiaanku ditertawakan karna aq hanya orang buangan. Ya Rabb, bimbing diriku agar aq senaif dahulu. Agar tak ada lagi sakit yang tertahan dalam setiap tawa. Aq sudah tak berselera untuk disiksa. Aq letih...
Aq menyakiti orang tuaku karna membiarkan hari ini lewat begitu saja. Aq mengecewakan teman”ku karna membiarkan diriku diabaikan. Aq membuat-Mu murka ya Allah... menyia-nyiakan berkah yang dilimpahkan.
Aq bukan orang yang lemah, kalau aq lemah aq sudah sembunyi di dasar lembah. Aq orang yang kuat dengan dagu tercuat kugenggam kejujuran erat. Demi Tuhan, aq tak ingin menyakiti siapa pun. Aq menghargai hidup. Putus harapan tidak akan mematahkan semangatku. Aq tidak akan pernah menemukan laut, jika masih tidak berani meninggalkan pantai. Aq tahu apa yang kuinginkan dan hidup seperti apa yang akan kujalani. Sekarang hanya bisa kuabadikan detakan nadiku untuk anak”. Untuk jiwa” polos yang tidak akan pernah menyakitiku. Karna dengan melihat senyuman mereka, aq bisa berdiri tegar sampai hari ini.....



Children Learn What They Live



Children Learn What They Live

If a child lives with critics, he learns to condemn
If a child lives with praise, he learns to appreciate
If a child lives with hostility, he learns to fight
If a child lives with tolerance, he learns to be patient
If a child lives with ridicule, he learns to shy
If a child lives with encouragement, he learns confidence
If a child lives with shame, he learns to feel guilty
If a child lives with approval, he learns to like himself
If a child lives with fairness, he learns to justice
If a child lives with security, he learns to have faith
If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world

Selasa, Desember 25, 2007

BUNDA........

Bunda, Rindu Ini Melangit Lagi! Cintamu padaku, Berakar di sukma Rindangnya memenuhi jiwa Sepanjang masa
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya, Ibunya telah mengandungnya Dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, ...." (QS Luqman : 14)
Bunda, malam ini tiba-tiba saja aku mengingatmu dengan utuh. Gurat syahdumu, tulus senyummu bahkan gaya berceritamu di masa kecil. Tiba-tiba saja bayangan sosok anggunmu dengan sorot mata penuh cinta hadir dalam jeda yang panjang kemudian menghilang. Sedang apakah saat ini bunda? Membaca buku? Tadarus Al-Qur'an? Menonton televisi atau ah entahlah, aku tidak yakin apa yang sedang bunda kerjakan saat ini. Mungkin juga bunda tengah bersiap di peraduan. Malam sudah akan beranjak. Tidur bunda selalu awal. Itu yang kutau. Ah, semoga bunda baik-baik saja.
Bunda, mata ini sudah dari tadi berkabut. Orang-orang yang lalu lalang tak lagi aku pedulikan. Pandangan ini bahkan telah samar. Bening air mata mungkin sebentar lagi luruh. Bunda, aku takut. Bunda, betapa aku ingin menujumu detik ini juga. Merengkuh banyak kekuatan yang seringkali engkau persembahkan ketika masalah tengah menghadang. Memetik bulir-bulir kedamaian yang selalu kau hunjamkan teguh ke kedalaman jiwa. "Bunda yakin, Allah pasti memberikan jalan atas masalahmu. Allah tahu batas kemampuanmu. Ia sudah menakarnya. Kamu yang harus yakin."
Bunda, betapa bahagia jika saat ini engkau nyata di hadapanku, inginnya aku bersimpuh di pangkuan dan meneguk percik-percik pinta yang kau senandungkan sempurna kepada Allahu Rabbana. "Semoga anak bunda jadi anak yang shalih, pintar dan mendapat pendamping hidup yang shalihah", "Semoga kamu, nak, sehat dan diberikan rezeki yang berkah".
Bunda, sungguh gembira tak terkira bila kau ada di sini sekarang, hingga dengan bebas aku meminta kesediaanmu untuk membaluri jiwa dengan param hangat doa-doa ikhlasmu hingga ketenangan itu menjulang. Bunda betapa ingin ku raih itu semua sekarang juga. "Nak, jangan buat bunda cemas, hati bunda seperti belah ketika kau belum datang juga, lain kali telpon jika akan menginap", "Nak, makanlah, agar sakitmu segera sembuh, bunda tak bisa tidur melihatmu berbaring lemah, bunda cemas nak, sungguh!".
Duh bunda, aku tahu khawatir itu saat ini. Kesayangan, kebahagiaan, kecemasan hingga perasaan tanpa nama. Bunda, seperti ucapanmu bahwa do'a seorang bunda seperti tuah, seperti bisa, selalu ampuh. Maka aku memohon kepadamu, Aku sayang bunda. Sungguh. Meski aku tahu sayang ini hanya seujung kuku dari bentang cakrawala cinta terindahmu. Meski sangat nyata rindu ini hanya setitik kecil di samudera penantianmu. Meski sangat jelas, ingatan kepada bunda bukanlah apa-apa dibanding semua yang bunda lakukan. Pengorbanan, ketulusan, kasih sayang, sujud-sujud bunda, bahkan air mata kesedihan. Tak tertebus. Tanpa batas. Semoga Allah sajalah yang membalas itu semua. Surga.
Bunda, sudah berapa lama kita tidak bertemu. Rindu padamu bunda, membumbung tinggi. Bunda, perkenankan aku bersimpuh dari jauh. Dalam gundah. Dalam lelah. Di setiap detak tak tentu. Serta dalam degup yang menderu. Ingin kusampaikan untai kata ini di gendang telinga mu "Bunda, rindu ini melangit lagi!" ***